Scroll untuk membaca artikel
Religi

Menjaga Lisan dan Hati: Teladan Nabi Muhammad SAW Saat Disakiti

×

Menjaga Lisan dan Hati: Teladan Nabi Muhammad SAW Saat Disakiti

Sebarkan artikel ini
Dokumen: JatimTrending.id
Dokumen: JatimTrending.id

Penulis: RKH. Jamaluddin Syam
Ketua PC JATMA ASWAJA Kabupaten Pamekasan.

PAMEKASAN | JATIMTRENDING.ID — Ucapan yang tidak benar tentang diri kita dapat memancing emosi. Namun, ketenangan membantu kita memilih sikap yang bijak dan tidak memperkeruh keadaan.

Scroll Untuk Membaca Artikel
Scroll Untuk Membaca Artikel

Mendengar tuduhan bukan alasan untuk langsung membalas. Berhenti sejenak, pastikan faktanya, lalu tentukan tanggapan yang adil, santun, dan bermanfaat bagi semua.

Al-Qur’an memuji orang yang menahan amarah dan memaafkan sesama; sifat itu termasuk ciri orang bertakwa yang dicintai Allah (QS. Ali ‘Imran [3]: 134).

Baca Juga :  Lisan Tak Bertulang, Dampaknya Mematikan: Pesan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tentang Menjaga Hati dan Ucapan

Ayat lain mengajarkan agar keburukan ditolak dengan cara terbaik, sehingga permusuhan mungkin berubah menjadi kedekatan atas izin Allah (QS. Fussilat [41]: 34).

Keteladanan Nabi tampak ketika beliau mengenang hari paling berat, saat dakwahnya di Thaif ditolak dengan menyakitkan; beliau pun bersedih (Sahih al-Bukhari 3231).

Dalam riwayat Aisyah, Nabi menceritakan malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk yang menyakitinya atas perintah beliau.

Namun, Nabi tidak memilih pembalasan. Beliau berharap keturunan mereka kelak menyembah Allah semata, memperlihatkan kasih sayang dan pandangan jauh ke depan.

Baca Juga :  Wakil Bupati Bangkalan Jadi Khotib Idul Adha, Serukan Semangat Pengorbanan untuk Bangkalan yang Lebih Sejahtera

Kisah itu bukan ajakan membiarkan kezaliman; ia menunjukkan kekuatan dapat digunakan dengan kasih, sementara keadilan tetap ditempuh melalui cara yang benar.

Rasulullah juga mengajarkan bahwa orang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam (Sahih al-Bukhari 6018).

Menjaga lisan bukan berarti menyembunyikan kebenaran. Sampaikan fakta dengan santun, pilih waktu yang tepat, dan hindari hinaan maupun tuduhan tanpa bukti.

Ketika emosi meninggi, menunda jawaban dapat mencegah penyesalan. Tarik napas, berdoa, dan bicaralah kembali setelah pikiran lebih jernih serta tenang.

Baca Juga :  Memahami Macam-Macam Najis dalam Islam dan Cara Mensucikannya

Jika kabar menyangkut kehormatan atau keselamatan, cari bantuan orang tepercaya dan tempuh langkah yang patut. Kesabaran tidak meniadakan ikhtiar mencari keadilan.

Sebelum menilai orang lain, mari bermuhasabah: apakah ucapan kita benar, perlu, dan membawa kebaikan? Pertanyaan sederhana ini membantu menjaga hubungan.

Kita mungkin tidak mampu mengendalikan perkataan orang lain, tetapi dapat memilih respons sendiri: tidak membalas fitnah dengan fitnah atau kekasaran.

Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menahan amarah, berkata benar dengan lembut, memaafkan ketika mampu, dan bertindak adil dalam setiap keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *