Penulis: Lora Jamaluddin Syam
Ketua Komunitas Lora Madura (KOLOM).
PAMEKASAN | JATIMTRENDING.ID — Lebaran Ketupat merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia yang dirayakan beberapa hari setelah Idul Fitri, khususnya pada hari ketujuh bulan Syawal sebagai bentuk penyempurnaan ibadah.
Tradisi ini berkembang kuat di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa, dan menjadi bagian dari warisan budaya yang menggabungkan nilai keislaman dengan kearifan lokal masyarakat.
Lebaran Ketupat diyakini erat kaitannya dengan dakwah yang menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan ajaran Islam agar mudah diterima oleh masyarakat luas.
Dalam ajaran tersebut, ketupat dijadikan simbol yang mengandung filosofi mendalam, sehingga masyarakat tidak hanya merayakan secara lahiriah, tetapi juga memahami makna spiritual di dalamnya.
Kata “ketupat” atau “kupat” sering diartikan sebagai singkatan dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan sebagai bentuk introspeksi diri setelah menjalani ibadah puasa.
Makna ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati dan keberanian untuk meminta maaf kepada sesama manusia, sehingga hubungan sosial dapat kembali harmonis dan penuh kedamaian.
Bentuk anyaman ketupat yang rumit melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, di mana setiap simpul mencerminkan berbagai kekhilafan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ketika ketupat dibelah, terlihat bagian dalamnya yang berwarna putih bersih, melambangkan hati yang kembali suci setelah melewati proses permohonan maaf dan pengampunan.
Janur atau daun kelapa muda yang digunakan sebagai pembungkus ketupat juga memiliki filosofi tersendiri, yaitu kesucian, harapan baru, dan kehidupan yang terus tumbuh.
Selain itu, cara memasak ketupat yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian menggambarkan proses spiritual manusia dalam memperbaiki diri yang tidak instan, melainkan melalui tahapan yang berkelanjutan.
Tradisi Lebaran Ketupat juga identik dengan kegiatan berbagi makanan kepada tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar sebagai wujud kepedulian sosial yang tinggi.
Kegiatan ini memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan, yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia dalam menjaga keharmonisan dan solidaritas antar sesama.
Tidak hanya itu, Lebaran Ketupat juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang akibat kesibukan atau perbedaan pendapat.
Dalam konteks keagamaan, perayaan ini juga berkaitan dengan anjuran menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fitri sebagai penyempurna ibadah Ramadhan.
Dengan segala filosofi yang terkandung di dalamnya, Lebaran Ketupat menjadi simbol mendalam tentang pengakuan kesalahan, penyucian diri, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
















