Scroll untuk membaca artikel
Religi

Lisan Tak Bertulang, Dampaknya Mematikan: Pesan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tentang Menjaga Hati dan Ucapan

×

Lisan Tak Bertulang, Dampaknya Mematikan: Pesan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tentang Menjaga Hati dan Ucapan

Sebarkan artikel ini
Maulana Habib Mohammad Luthfi bin Hasyim bin Ali bin Yahya, Ketua Umum Pengurus Besar JATMA ASWAJA
Maulana Habib Mohammad Luthfi bin Hasyim bin Ali bin Yahya, Ketua Umum Pengurus Besar JATMA ASWAJA

PEKALONGAN | JATIMTRENDING.ID — Pesan mendalam kembali disampaikan oleh mengenai pentingnya menjaga lisan dan hati dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah derasnya arus informasi modern.

Dalam dawuhnya, beliau mengingatkan bahwa lisan memang tidak bertulang, namun memiliki kekuatan layaknya pedang tajam yang dapat melukai bahkan mematikan secara sosial dan spiritual.

Scroll Untuk Membaca Artikel
Scroll Untuk Membaca Artikel

Sering kali, ucapan dianggap sepele, hanya sebatas candaan atau cerita ringan. Namun tanpa disadari, lisan yang tidak terjaga mampu memicu kesalahpahaman yang merusak hubungan antarindividu.

Lebih jauh, ucapan yang tidak difilter dapat menumbuhkan fitnah, memperkeruh suasana, serta memecah belah persaudaraan, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, hingga umat secara luas.

Baca Juga :  Perbedaan Penetapan Idul Fitri dalam Islam: Antara Rukyat dan Hisab Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis

Dalam perspektif ini, yang menghancurkan bukanlah senjata fisik semata, melainkan kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan, tanpa kendali, dan tanpa tanggung jawab moral serta spiritual.

Para ulama terdahulu telah memberikan solusi melalui berbagai jalan spiritual, seperti thoriqoh yang berkembang sebagai sarana mendidik jiwa dan membersihkan hati manusia dari penyakit batin.

Thoriqoh seperti , , , dan bukan sekadar simbol identitas, melainkan metode pembinaan spiritual yang berorientasi pada penyucian hati.

Tujuan utama dari perjalanan spiritual tersebut adalah menciptakan hati yang bersih, karena dari hati yang jernih akan lahir perilaku yang terjaga dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketika hati telah bersih, lisan tidak akan mudah berbicara sembarangan, telinga tidak mudah menerima kabar tanpa verifikasi, dan mata tidak sembarangan memandang sesuatu secara negatif.

Baca Juga :  Mengapa Sholat Jumat Wajib? Ini Dalil, Syarat, dan Keutamaannya

Sikap seseorang pun menjadi lebih terkontrol, tidak reaktif terhadap berbagai informasi yang belum jelas kebenarannya, serta mampu menahan diri dari ucapan yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Dalam kondisi tersebut, seseorang telah memiliki filter batin yang kuat, sehingga setiap informasi yang diterima akan disaring sebelum disampaikan kembali kepada orang lain.

Filter utama yang ditanamkan dalam diri seorang hamba adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah”, yang tidak hanya berfungsi sebagai dzikir, tetapi juga sebagai penjaga hati dan pengendali diri.

Baca Juga :  Islam Adalah Jalan Hidup yang Komprehensif dan Rahmatan Lil ‘Alamin

Kalimat tauhid tersebut menjadi fondasi dalam menyaring ucapan, menahan emosi, serta mengarahkan perilaku agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.

Tanpa adanya filter dalam diri, lisan dapat menjadi sumber bahaya, telinga menjadi pintu masuk kesesatan informasi, dan hati menjadi pusat kerusakan yang lebih besar.

Oleh karena itu, mempelajari thoriqoh sejatinya bukan hanya tentang mengamalkan wirid, melainkan proses mendalam dalam membersihkan hati agar tidak membawa dampak buruk bagi orang lain.

Pada akhirnya, menjaga dunia mungkin terlihat sulit, namun yang jauh lebih sulit adalah menjaga hati dan lisan agar tetap bersih, jujur, serta membawa manfaat bagi sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *