Penulis: Habib Muhammad Bil Faqih
Pengasuh Ponpes. Darul Qur’an Pamekasan
PAMEKASAN | JATIMTRENDING.ID — Syariat dan thoriqoh merupakan dua konsep penting dalam Islam yang membantu umat menjalani kehidupan beragama secara utuh, seimbang, dan bermakna.
Pengertian syariat dalam ajaran Islam mencakup tuntunan agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, meliputi keyakinan, ibadah, akhlak, serta hubungan sosial manusia.
Dalam kajian fikih, syariat Islam memberikan pedoman tentang kewajiban, larangan, dan tata cara hidup sesuai prinsip agama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengertian thoriqoh atau tarekat merujuk pada jalan pembinaan rohani dalam tradisi tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan terarah.
Thoriqoh dalam Islam umumnya mencakup zikir, pengendalian diri, latihan spiritual, dan bimbingan guru yang kompeten serta berpegang pada ajaran yang sahih.
Hubungan syariat dan thoriqoh bukanlah pertentangan: syariat menata tindakan lahiriah, sementara thoriqoh mendukung pemurnian niat, kesadaran batin, dan keikhlasan secara konsisten.
Keduanya saling melengkapi ketika ibadah yang sesuai syariat disertai penghayatan, niat tulus, dan perhatian terhadap nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, pengalaman rohani yang terpisah dari ketentuan agama dapat kehilangan landasan, sehingga perlu dipahami secara kritis, mendalam, dan bertanggung jawab.
Pembahasan syariat dan tarekat dalam Islam sebaiknya menempatkan aturan dan penghayatan sebagai unsur yang berjalan bersama, bukan pilihan yang saling meniadakan.
Dalam sejarah keilmuan Islam, banyak ulama membahas tasawuf yang terarah sebagai pendamping ilmu fikih, akidah, serta pembentukan akhlak mulia secara berkelanjutan.
Praktik setiap thoriqoh dapat berbeda dalam wirid, tata pembinaan, dan struktur kepemimpinan, sesuai tradisi serta konteks masyarakat setempat di berbagai komunitas.
Karena itu, calon pengikut perlu mempelajari ajaran thoriqoh melalui sumber tepercaya, memahami dasar amalannya, dan menilai kesesuaiannya dengan prinsip syariat secara cermat.
Manfaat thoriqoh yang dibina secara bertanggung jawab antara lain membantu disiplin diri, memperkuat keikhlasan, serta menumbuhkan kepedulian kepada sesama dalam kehidupan beragama.
Guru rohani semestinya memiliki pengetahuan memadai, keteladanan akhlak, dan komitmen membimbing murid secara sehat tanpa menumbuhkan kultus individu yang tidak sehat.
Mengikuti bimbingan tidak menghapus tanggung jawab pribadi untuk berpikir, bertanya dengan santun, dan merujuk ulama serta sumber agama berotoritas yang terpercaya.
Keselarasan syariat dan thoriqoh terlihat dalam ibadah tertib, kejujuran, kepedulian sosial, kesederhanaan, serta penghormatan tulus terhadap sesama yang nyata dalam keseharian.
Zikir dan latihan batin idealnya memperkuat perilaku etis, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan keluarga, pekerjaan, maupun tanggung jawab sosial sehari-hari.
Perbedaan pandangan tentang tarekat sebaiknya dibicarakan secara beradab dan bijaksana, dengan membedakan persoalan prinsip, variasi tradisi, dan praktik yang perlu dikritisi.
Sikap terbuka tidak berarti menerima semua klaim tanpa pemeriksaan; sikap kritis pun hendaknya tidak berubah menjadi prasangka atau penghakiman menyeluruh.
Memahami syariat dan thoriqoh secara seimbang membantu umat mengarahkan pencarian kedekatan kepada Allah melalui ketaatan, kejernihan hati, dan kemaslahatan bersama.

















