SUBANG | JATIMTRENDING.ID — Rois ‘Am Jatma Aswaja Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya sampaikan 12 amanah penting ke seluruh pengurus mulai pusat sampai ranting. Pesan disampaikan usai Silaturahmi Nasional Annitho Aswaja di Wisma Perdamaian, Semarang, Jawa Tengah. Sabtu, (13/06/2026).
Dalam amanahnya, Habib Luthfi menekankan setiap pengurus wajib menjadi teladan umat dengan mengamalkan Akhlakul Karimah dalam seluruh kehidupan sehari‑hari secara nyata dan konsisten.
Sikap bijak disoroti soal keriuhan dunia maya. Beliau berpesan jangan menjawab sembarangan fitnah atau komentar buruk di media sosial agar tidak ikut terjebak keributan yang sia‑sia.
“Biarkan saja, jangan katut atau ikut kebodohan mereka,” ujar Habib Luthfi tegas mengingatkan agar kader tetap tenang dan tidak mudah terpancing emosi di ruang publik digital.
Beliau juga mengingatkan ungkapan berharga: “Dadio wong pinter, tapi ojo keblinger”. Jadilah orang cerdas namun jangan tersesat jalan, karena hal itu tak ada gunanya bagi diri maupun sesama.
Habib Luthfi mengajak seluruh elemen Jatma Aswaja menjaga hati dan pikiran agar tidak makin kotor, sebab hal itu hanya merusak diri sendiri serta merugikan umat secara luas di tengah masyarakat.
Para pengurus diwajibkan memasyarakatkan Thoriqoh sekaligus membimbing masyarakat agar memahami ajaran tersebut secara utuh, benar, dan tidak terpotong maknanya sama sekali.
Terkait pertanyaan yang berpotensi memecah belah organisasi, beliau beri panduan jawaban bijak: “Kami bukan tidak bisa menjawab, tapi kami takut ghofloh atau lupa kepada Allah dan Rasul‑Nya.”
Beliau menegaskan kembali jati diri organisasi: “Jatma Aswaja berdiri untuk berkhidmah mengabdi kepada agama, bangsa, negara, serta meneladani jejak para Salafus Shalihin yang mulia.”
Fokus utama ke depan, ajaran Thoriqoh harus bisa maju, berkembang, dan menjadi solusi nyata atas berbagai problema kehidupan lewat cahaya kalimat Laa ilaha illallah yang murni dari hati.
Tentang keragaman jalan spiritual, Habib Luthfi ingatkan pentingnya menjaga Ukhuwah Thoriqiyyah. Semua Thoriqoh Al‑Mu’tabaroh hakikatnya sama, hanya berbeda keutamaan masing‑masing jalan menuju Allah.
Hal ini persis seperti ayat Al‑Qur’an Yasin, Al‑Ikhlas, Al‑Mulk yang punya keistimewaan sendiri namun semuanya sama‑sama merupakan Kalamullah yang suci dan mulia.
Beliau gunakan perumpamaan indah: “Semua Thoriqoh Al‑Mu’tabaroh ibarat kapal bentuknya beda, namun semua berlayar di satu samudera: Samudera Laa ilaha illallah.”
Dunia Thoriqoh seluas samudera tanpa batas, tak boleh dipersempit pemahamannya. “Banyak mengira hanya soal tasbih, padahal makna dan ruang lingkupnya jauh lebih luas dari itu semua,” jelasnya.
Pemahaman sempit sering membuat perselisihan. Oleh karena itu, seluruh kader diminta memperluas wawasan agar tidak salah menafsirkan ajaran yang sudah benar dan mapan.
Menghadapi ucapan buruk, beliau berpesan: jangan dibawa ke hati, utamakan memaafkan, lalu berdoakan kebaikan bagi yang berbuat salah tanpa rasa dendam sedikit pun.
Tujuannya agar persatuan tetap kokoh dalam bingkai NKRI berakhlak mulia, sesuai cita‑cita pendahulu para ahli Thoriqoh yang mengutamakan persaudaraan sejati antar sesama manusia.
Ke‑12 amanah ini diharapkan jadi kompas perjuangan seluruh kader Jatma Aswaja di mana pun berada, agar arah dakwah tetap lurus dan tak bergeser tujuan aslinya.
Semoga Allah SWT beri kekuatan lahir batin, keistiqomahan, dan meridhoi setiap langkah pengabdian tulus untuk kemajuan agama serta kesejahteraan bangsa Indonesia.
Selamat berkhidmah, selamat berjuang. Semoga pancaran cahaya Laa ilaha illallah senantiasa menuntun hati menuju ridha‑Nya yang abadi dan penuh berkah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
















