Penulis: Raden Moh. Ali Ghufron
Aktifis Pemuda Agama Pamekasan.
RELIGI | JATIMTRENDING.ID — Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang istimewa dalam kalender Hijriyah. Di antara hari-hari penting di dalamnya, tanggal 9 dan 10 Muharram, yang dikenal dengan puasa Tasu’a dan Asyura, memiliki keutamaan luar biasa bagi umat Islam.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW. menganjurkan puasa Asyura sejak masa awal Islam. Hari Asyura diperingati karena di hari itu, Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun. Hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim.
“Hari ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari Fir’aun, maka Musa berpuasa pada hari itu. Aku lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hapus Dosa Setahun
Salah satu keutamaan puasa Asyura yang paling populer adalah janji ampunan atas dosa setahun yang lalu.
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Meskipun puasa ini bersifat sunnah, para ulama menyebutnya sebagai sunnah muakkadah karena keutamaannya yang besar. Banyak umat Islam yang antusias menjalankannya setiap tahun.
Menghindari Kemiripan dengan Yahudi
Untuk membedakan dari kebiasaan kaum Yahudi, Nabi Muhammad Rasulullah SAW. juga menganjurkan umat Islam untuk menambahkan puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram atau Tasu’a.
“Jika aku masih hidup tahun depan, aku akan berpuasa juga pada tanggal 9.” (HR. Muslim)
Sejumlah ulama bahkan menyarankan untuk berpuasa tiga hari berturut-turut: 9, 10, dan 11 Muharram, agar semakin sempurna.
Momen Introspeksi Awal Tahun Hijriyah
Selain menambah pahala, puasa Tasu’a dan Asyura juga menjadi momen penting untuk melakukan introspeksi diri di awal tahun baru Islam.
“Ini adalah saat yang tepat bagi umat Muslim untuk memulai tahun baru Hijriyah dengan ibadah, taubat, dan niat yang lebih baik,” ujar Raden Moh. Ali Ghufron, seorang aktifis pemuda agama Pamekasan.
Penutup: Puasa Tasu’a dan Asyura bukan hanya ibadah fisik, tapi juga bentuk pengingat atas sejarah perjuangan para nabi dan peluang besar untuk menghapus dosa. Dengan menjalankan sunnah ini, umat Islam diharapkan bisa mengisi Muharram dengan semangat keimanan dan kebaikan.
















