Penulis: Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I.
Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.
RELIGI | JATIM TRENDING.ID — Dalam dunia modern yang penuh dinamika dan tantangan, figur kesatria sejati tak hanya relevan, ia justru sangat dibutuhkan. Menjadi kuat saja tidak cukup. Kita butuh jiwa kepemimpinan yang berani, adil, dan penuh integritas, seperti warisan nilai dari para tokoh Islam dan pemikir besar dunia.
Sastrawan besar Mesir, Abbas Mahmud Al-Aqqad, pernah menyatakan dalam bukunya Matla’ Al-Nur, bahwa saat ia menelaah kepribadian para sahabat Rasulullah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, ia menemukan keunikan karakter masing-masing. Namun, ketika ia mencoba merangkum kepribadian Nabi Muhammad SAW, ia mendapati begitu banyak “kunci” kepribadian hingga tak bisa disederhanakan.
“Setiap saya temukan kuncinya, saya membuka kamar. Dan di dalamnya, ada lagi kunci-kunci.” Abbas Mahmud Al-Aqqad
Begitu pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai Babul ‘Ilmi (Pintu Ilmu), tak hanya dikenal karena ilmunya, tetapi juga sebagai figur kesatria sejati dalam sejarah Islam. Mari kita simak nilai-nilai yang ia wariskan nilai yang sangat relevan bagi siapa saja yang ingin menjadi pemimpin yang kuat, cerdas, dan bermartabat.
1. Pemberani dan Tak Pernah Mundur
Ali adalah pendekar dalam makna sejati. Dalam perang Badar, Uhud, Khandaq hingga Khaibar, ia selalu berdiri di garda terdepan. Bahkan saat pasukan mundur, Ali tetap melindungi Rasulullah SAW dengan gagah berani.
2. Rela Berkorban untuk Kebenaran
Keberaniannya bukan hanya soal fisik, tapi juga spiritual. Ia rela menggantikan posisi tidur Nabi saat rencana pembunuhan di malam hijrah, menyadari sepenuhnya bahwa ia bisa mati kapan saja.
3. Amanah dan Bisa Dipercaya
Ali mendapatkan tugas penting dari Rasulullah untuk mengembalikan barang-barang milik Quraisy yang dititipkan kepada beliau. Semua dikembalikan tanpa kurang satu pun. Bukti bahwa seorang kesatria sejati adalah pribadi yang amanah.
4. Ilmuwan yang Rendah Hati
Ali menguasai seluruh ayat dalam Al-Qur’an beserta asbabun nuzul-nya. Namun, ia tetap hidup sederhana, memakai pakaian kasar dan makan secukupnya. Ilmu tidak membuatnya sombong, justru makin dekat pada kebenaran.
Kesatria dalam Perspektif Intelektual Muslim
Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa kesatria adalah sosok dengan kekuatan moral, bukan sekadar fisik. Ia melayani yang lemah, berlaku adil, menepati janji, dan berani karena bijaksana.
Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) pun meskipun tidak secara eksplisit membahas “kesatria”, menekankan bahwa seorang Muslim sejati adalah mereka yang bertindak sesuai fitrah (naluri kebenaran) dan sunnatullah (hukum Allah di semesta). Ini mencerminkan kesetiaan pada keadilan, kerja keras, dan keberanian bertanggung jawab.
Dari Nilai Klasik ke Semangat Kebangsaan
Dalam budaya Hindu-Buddha, kasta kesatria adalah golongan bangsawan dan prajurit. Tapi dalam Islam, nilai kesatrian tidak dibatasi kasta. Semua orang bisa menjadi kesatria jika punya keberanian, keadilan, kepedulian, dan kesetiaan kepada kebenaran.
Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, menggambarkan kesatria dengan sangat bijak:
“Seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian.” Prabowo Subianto
Kesatria dalam Al-Qur’an: Refleksi dari Surat Yasin
Dalam Surat Yasin ayat 20, Allah menggambarkan seorang laki-laki yang datang dari ujung kota demi membela kebenaran. Ia melangkah dengan penuh keberanian dan iman. Inilah makna kesatria yang sesungguhnya: keberanian spiritual, loyalitas pada kebenaran, dan tanggung jawab sosial.
Pemimpin Harimau: Sebuah Alegori Tegas Sebagaimana ungkapan bijak:
“Jika seribu harimau dipimpin oleh seekor kambing, mereka akan mengembik. Tapi jika seribu kambing dipimpin oleh seekor harimau, mereka akan mengaum. Dan jika seribu harimau dipimpin oleh seekor harimau, maka dunia akan berguncang.” Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro
Penutup: Menjadi Harimau yang Berjiwa Kesatria
Kita semua bisa memilih, menjadi kuat dan menindas, atau kuat dan melindungi. Jadilah harimau yang tidak hanya gagah, tapi juga memiliki jiwa kesatria. Yang mengaum bukan karena ingin ditakuti, tapi karena membela kebenaran dan keadilan.
Billahitaufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Wallahu a’lam bishshawab.
















