Scroll untuk membaca artikel
Wisata dan Kuliner

Lestarikan Nilai Kearifan Lokal, Masyarakat Kaduara Timur Gelar Petik Laut Sebagai Simbol Syukuran Nelayan

×

Lestarikan Nilai Kearifan Lokal, Masyarakat Kaduara Timur Gelar Petik Laut Sebagai Simbol Syukuran Nelayan

Sebarkan artikel ini

SUMENEP | JATIMTRENDING.ID — Tradisi petik laut merupakan suatu kegiatan turun temurun yang harus kita lestarikan bersama oleh masyarakat pesisir dan setiap tahun harus di selenggarakan tasyakuran yang jatuhnya setiap pada bulan Muharram atau suro dalam kalender Jawa. Tradisi tersebut merupakan adat yang dilakukan oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut yang telah mereka peroleh. Sabtu (28/06/2025).

Pasalnya, masyarakat Desa Kaduara Timur Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep ini menggunakan alam sebagai kebutuhan hidup mereka, yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan mencari ikan di laut untuk kebutuhan ekonominya. tradisi petik laut wilayah pesisir digelar selama 4 hari lamanya di mulai dari tanggal 27-30 Juni.

Scroll Untuk Membaca Artikel
Scroll Untuk Membaca Artikel

Ketua Panitia Petik Laut melalui wakilnya Abah Jauhari menyampaikan bahwa budaya petik laut ini merupakan tradisi yang harus di lestarikan sebagai warisan budaya dari nenek moyang kita dan merupakan penghargaan masyarakat nelayan terhadap laut sebagai sumber penghasilannya.

Baca Juga :  Waduk Klampis, Permata Alam di Sampang yang Kian Diminati Wisatawan

“Budaya ini bentuk kesepakatan masyarakat Kaduara Timur yang mayoritas adalah nelayan. Disisi lain juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh SWT yang telah memberi keselamatan dan limpahan rezeki melalui hasil laut,” katanya.

Baca Juga :  Misteri Api Abadi di Pamekasan, Tak Padam Meski Diguyur Hujan

Lebih lanjut Abah Jauhari menambahkan saat ditemui di kediamannya, selain sebagai tanda syukur atas nikmat yang diberikan Alloh SWT ada juga manfaat dari petik laut ini adalah untuk menjaga kelestarian laut serta mengandung berbagai nilai penting dalam kehidupan masyarakat, yaitu nilai gotong royong, sosial, estetika, dan religi.

Baca Juga :  Asta Batu Ampar Pamekasan, Wisata Religi Tak Pernah Sepi Penziarah 

“Tradisi petik laut ini adalah penggabungan dari kearifan lokal dan agama. Dalam tradisi petik laut terdapat doa-doa pembacaan ayat suci Al-Qur’an sebelum pada akhirnya sesaji di larungkan ke laut. Masyarakat menyebutnya dengan istilah Petik Laut atau (Larung Sesaji) yang dalam bahasa Madura atau orang Madura menyebutnya dengan istilah Rokat Tase,” pungkasnya.

Perlu diketahui bersama bahwa acara petik laut ini didukung oleh 80 nelayan dan beberapa sponsor serta antusias masyarakat pesisir Desa Kaduara Timur yang begitu antusiasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *